March 31st, 2008
Karya Sastra Kita
Pernah denger Marah Rusli? Sutan Takdir Alisjahbana? atau Asrul Sani? Pernah juga diajarin tentang angkatan Pujangga Baru?
Kita semua, setidaknya saat SMA, pasti mendapatkan “sedikit” pengetahuan tentang sastrawan-sastrawan besar kita. Terakhir, sastrawan besar kita, yang telah tiada, adalah Pramoedya Ananta Toer.
Sebenarnya, seberapa kenal kita-kita dengan karya sastra negara kita sendiri? Apakah kita-kita tahu bahwa I La Galigo dari Bugis adalah karya sastra terpanjang di dunia yang terdiri dari 6000 halaman? Saya yakin banyak yang baru saja mendengar soal ini (dan judul tersebut).
Menurut saya, kesalahannya (walau tidak sepenuhnya) adalah di sistem pengajaran kita. Kita sama sekali tidak dididik untuk mencintai karya sastra sendiri.
Guru Bahasa Indonesia, sebagai ujung tombak, hanya mengajarkan hal-hal yang perlu dihafal saja. Pasti 99% dari kita belum pernah membaca — benar-benar membaca — novel berjudul Siti Nurbaya atau Layar Terkembang.
Guru Bahasa Indonesia saya di SMA pernah ikut studi banding ke beberapa negara. Itu terjadi sekitar 8 tahun yang lalu. Dia bilang dia negara maju, seperti USA atau Jepang, pelajar sudah diwajibkan untuk membaca lebih dari 30 buku per tahunnya.
Siswa di USA malah kalau tidak salah harus membaca 50 buku per tahun sebagai kewajiban dan menceritakan kembali (dan membahasnya) dalam diskusi kelas.
Bagaimana di Indonesia? Sampai saya lulus sekolah sih seingat saya belum pernah ada tuh kewajiban baca buku. Untungnya saya termasuk suka baca buku, jadinya membuat visi beli 1 buku per bulan, yang sampai sekarang masih sulit ter-realisasikan.
Blogging ini menurut saya adalah satu sarana efektif untuk kita-kita melatih kemampuan membaca dan menulis. Hanya saja menurut saya, kebiasaan seperti ini seharusnya sudah dilatih sejak kecil. Caranya?
Ya seperti di negara lain, coba wajibkan setiap siswa membaca sejumlah buku (gak usah yang berat-berat dulu), berikutnya kemukakan isi buku tersebut, dan diskusikanlah moral ceritanya.
Apakah yang seperti itu sulit dilakukan? Buku seharusnya bisa difasilitasi dengan perpustakaan sekolah. Jika masih belum lengkap, bagaimana jika novel-novel besar kita itu didigitalkan dalam bentuk ebook dan didistribusikan terbatas untuk pendidikan.
Saya percaya bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai karya anak bangsanya sendiri ![]()


March 31st, 2008 2:17 am
Setuju banget sayaang.. Mwuaah.. :*
March 31st, 2008 2:19 am
Setuju banget bebi..
March 31st, 2008 7:33 pm
Gw dulu suka baca roman2 indonesia and imho layar terkembang adalah salah satu yang paling… membosankan xD
Kalo pram mantap lah :p
March 31st, 2008 7:35 pm
masalahnya klasik:
- perpustakaan sekolah rata-rata koleksinya memprihatinkan, jadi ga bisa menunjang
- menyuruh siswa beli: nyari di toko buku susah, dan tidak semua siswa mampu
- pinjam: yang punya buku2 itu rata2 sudah sepuh, dan belum tentu mereka inget nyimpennya di mana
nah kl ebook bisa juga, tinggal siapa yang mau melakukan pekerjaan ‘kuli’ nya
April 12th, 2008 11:45 pm
Bagaimana sastra Indonesia bisa maju? Lha wong guru-guru Bahasa Indonesia saja rata-rata tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
April 13th, 2008 12:01 am
Saya dulu rajin ngisi kolom sasta di beberapa suratkabar di Riau, Sumut dan Sumbar. Tapi tak ada reaksi dari pihak manapun. Walhasil, lebih dari 1 dekade “dunia gamang” itu saya tinggalkan.
April 13th, 2008 10:40 am
@Herdianto MS Tiamal:
Mas, terima kasih atas kontribusinya selama ini untuk karya kita. Sayang sekali memang sampai sekarang pemerintah [dan komunitas sastra dalam lingkup besar] nampaknya masih belum mampu mendorong karya sastra kita ke arah yang lebih membanggakan.