Curhat Jakarta: macet

Thursday, February 21st, 2008

traffice-jakarta.jpg

Jika berangkat di masa 3-in-1, sampai di kantor 2 jam berikutnya. Jika berangkat setelah masa 3-in-1, sampai di kantor 1 jam berikutnya. Padahal kenyataannya jarak segitu bisa ditempuh dalam waktu 30 menit, jika kita pulang setengah 12 malam! Sungguh saya merindukan waktu di mana Jakarta sebaik kota-kota lain di luar negeri. Ke mana-mana dengan transportasi publik nyaman dan aman, bahkan bisa jalan kaki ke mana-mana.

Jakarta oh Jakarta.. baru dapat forward-an soal Jakarta di mata orang asing. Saya pribadi setuju bahwa Jakarta dibangun tanpa perencanaan yang jelas. Coba deh kita tanya gubernur Jakarta, dalam 5 tahun ke depan, berapa taman yang dibangun untuk rakyat, kapan akses ke bandara tidak akan pernah banjir lagi, kapan ada gedung kesenian sekelas Opera House, pasti gak bisa jawab.

Saran yang diberikan memang jelas:

Jakarta has fallen decades behind capitals in the neighboring countries — in esthetics, housing, urban planning, standard of living, quality of life, health, education, culture, transportation, food quality and hygiene. It has to swallow its pride and learn from Kuala Lumpur, Singapore, Brisbane and even in some instances from its poorer neighbors like Port Moresby, Manila and Hanoi.

Tapi nampaknya realisasi tidak semudah kata-kata. Sudah setiap tahun pejabat kita mengadakan “studi banding” ke luar negeri, hasilnya? Nol besar. Kanal barat dan kanal timur yang katanya untuk menanggulangi banjir sampai sekarang belum rampung-rampung. Alasannya? Kekurangan duit. Klise saat PAD DKI diperkirakan mencapai 20 triliun.

Solusi? Mungkin pindah. Pertama, kita-kita yang pindah ke luar Jakarta. Well, tinggal di luar Jakarta sebenarnya lebih enak, lebih nyaman dan gak macet. Tapi ada dua hal yang hilang. Satu, Jakarta itu pusat segalanya, dari fasilitas hingga hiburan. Dua, most of the opportunities lies in Jakarta. Satu-satunya cara adalah mencari cara untuk bekerja remote.

Solusi kedua adalah memindahkan ibukota. Ya ini prinsipnya kayak di US sana. Ada kota bisnis, yaitu New York, dan ada ibukota negara, yaitu Washington DC. Cara ini mungkin lebih appealing, tapi yang jelas lebih berbiaya. Coba hitung, berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk memindahkan seluruh pusat pemerintahan, termasuk istana, ke kota lain?

Gimana kalo dibikin polling. Yah by comment kali ya di sini. Apakah saat ini Anda merasa “nyaman” tinggal di Jakarta? Seandainya disuruh “pindah” dari Jakarta, syarat apa yang Anda ajukan? Ditunggu komentarnya :)

7 Comments to Curhat Jakarta: macet

tukang ketik
February 21, 2008

gue betah2 aja om, dari lahir dah disini… trus mo gimana lagi?

oh, ada tau lowongan di spore ga?

jadi developer axapta atau c# gituh? hehehe

regards,
http://www.bolanova.com

Amir Karimuddin
February 22, 2008

@tukang ketik
Hahaha.. malah cari lowongan dianya.. banyak deh kayaknya om.. coba cari di JobsDB singapore deh.. ato ikutan milis Indo-Singapore.
btw, lo Microsoft-centric yak :D

zidni
February 22, 2008

Nggak enak tinggal di Jakarta,
mending di Depok aja :D

bluedee
February 22, 2008

emang kayaknya jakarta emg ga jelas kotanya…kayak gurbernur jakarta harus sering2 main simcity..

iang
February 24, 2008

Suatu ketika gue pernah lagi ngobrol2 sama dosen gue.. Trus dia nanya gue datang dari mana dan gue jawab “Jakarta”.. Obrolan berlanjut sampai pertanyaan dia tentang banjir di jakarta dan akhirnya dia curhat kalo pernah kejebak banjir di Jakarta.. gue? senyum2 aja.. bingung mo jawab apaan .. huhuhu

ekSi
February 24, 2008

Soalnya mir, kalau “studi banding” tuh, nginepnya di hotel bintang lima. Kemana-mana dijemput pake limousine atau mercy, jadinya gak pernah bener2x ngerasain gimana enaknya hidup di luar dengan berbagai macam apresiasi yang diberikan pemerintahnya dengan memberikan public service yang oke banget. Coba deh suruh nginep di flat (atau perumahan yg umum digunakan orang2x di luar negri), suruh jalan kaki, naik trem, LRT, monorail, bus. Pasti langsung berasa gimana enaknya dan mengusahakan negaranya seperti itu juga :D hehehehe

Kemaren ngobrol sama temen org phillipines, dia tinggal di manila. Sama buruknya sama Jakarta. Kita berdua sampe kadang berharap bisa dibangun kembali tuh semua. Orang2x dipinggirin dulu. Tapi kan tetep, mau membangun harus pake duit, di korupsi lagi… Capeeeeeeee dehhh… Lingkaran setan ga berujung.. :D

Amir Karimuddin
February 27, 2008

@iang dan ekSi
makasih banget buat masukannya.. semoga ada pihak berwenang yang baca *ngarep mode* :D

Leave a comment


Enter this code


Search

Iklan

Archives

Worth Visiting

My Plurk

Stats